Ketertarikan akan olahraga hiking ini bukan karena kehebohan di dunia maya saat itu, namun sudah sejak lulus SMA sudah sangat tertarik. Namun baru tersalurkan sewaktu semester 5, di tahun 2014. Tepatnya di bulan September tanggal 27, saat itu hari Sabtu. Pagi pukul 10.00 kami sudah berangkat dari Jogja, menuju Selo Kabupaten Boyolali dengan waktu tempuh sekitar 3 Jam, maklum kecepatan rata-rata motor kami hanya 60 km/jam.
Bulan September saat itu adalah musim kemarau, kering tiada hujan dan panas pun terasa menyengat. Walaupun begitu panasnya, tidak menyurutkan kami untuk menginjakan kaki di puncak Merapi. Waktu menunjukan pukul 13.00, kami melakukan Sholat Dzuhur bergantian kemudian kami berkemas menuju Base Camp lewat jalur Selo.
Setelah sampai di Selo kami melakukan registrasi dan mencatat segala keperluan yang ada di Base Camp, setelah dirasa cukup kami pun bergegas menuju jalur pendakian. Berbekal carier seadanya milik teman, ditambah sleeping bag rentalan punya toko outdoor, dan beberapa potong baju seadanya serta jaket kelas yang hanya menahan angin, itu pun kadang tembus (hehehe), saya pun naik. “Ini pertama kalinya buat saya”, gumamku sambil berjalan di barisan paling belakang.
Ketika di sampai kaki gunung, dekat plang bertuliskan “New Selo” kami beristirahat sambil membeli beberapa buah pisang. Disana bertemu dengan beberapa orang pendaki yang akan naik juga, tidak kusangka mereka sangat ramah, tidak ada sifat sombong dan jaim sedikitpun. Setelah beberapa saat kami langsung naik dan mengucapkan salam ke pendaki tadi.
Trek di awal pendakian masih jalan cor blok, dan tidak ada kesulitan, sepatu yang kugunakan pun hanya pinjaman milik teman, itupun sepatu kets (mohon jangan ditiru ya, gunakan sepatu gunung agar lebih aman). Di perjalanan kami selalu menengok ke utara, kenapa? Karena di utara merapi adalah gunung Merbabu, dan siapa sangka, Merbabu dilihat dari merapi sangat indah. Hamparan padang rumput yang hijau sangat memanjakan mata ini, sungguh karunia Allah yang luar biasa.
Perjalanan kami terkesan santai dan tidak terburu-buru, maklum 4 dari 6 orang yang mendaki adalah pemula, oleh karena itu masih amatir dan juga energi yang masih belum stabil. Apalah daya “break” untuk istirahat sering dilakukan. Dalam perjalanan kami juga berpapasan dengan para pendaki lain, seperti biasa kami saling menyapa, layaknya seorang teman, cara menyapa pun tidak sekedar formalitas saja. Inilah yang membuat saya semakin terkesima akan olahraga hiking ini, tak terasa matahari pun semakin tenggelam di ufuk barat, dan semakin hilang tenggelam.
Hari pun terasa gelap dan angin mulai berhembus, dingin semakin menusuk kedalam tulang, jaket yang kupakai terasa tertembus angin, menggigil pun tak terhindarkan. Namun masih bisa ditahan, karena masih dalam aktivitas fisik yaitu jalan kaki. Maghrib kami bertolak dari pos 2, menuju pasar Bubrah yang kami tuju untuk tempat kami menginap.
Trek pun semakin terjal dan hari semakin gelap, tak disangka kabut tebal mulai turun penglihatan kami pun terbatas hanya beberapa meter saja. Hanya empat senter yang kami gunakan, cukup untuk menerangi jalan. Pohon-pohon pinus sudah mulai jarang, yang ada hanya semak belukar dan batu-batu kering, ini menandakan vegetasi sudah berubah. Kami berjalan mulai mendekati puncak, rasa lelah dan letih mulai menghampiri kami. Rasa dingin yang menusuk mulai terasa, sarung tangan yang kupakai terasa tiada berarti. Tetapi entah kenapa kami semakin sedikit “break” untuk istirahat, kami menyeret diri kami sendiri untuk cepat sampai di pos terakhir yaitu pasar Bubrah. Kondisi kabut yang tebal menyamarkan pandangan kami, puncak-puncak semu nan fatamorgana pun mulai merasuki pikiran kami, yang ternyata masih ada puncak lagi. Hal ini terjadi karena kabut yang menghalangi.
Sesampai di pasar Bubrah akupun masih belum sadar kalau tempat tersebut adalah pos terakhir, dan kutanya pada temanku “Mana pasar Bubrah?” temanku menjawab dengan nada sedikit tertawa “Ini pasar bubrah Ro.” Senyum kecil pun merekah di wajahku, rasa lega akan segera istirahat pun semakin besar. Kala itu kulihat jam di telfon genggamku, dan waktu menunjukan pukul 21.00. Di pasar Bubrah angin terasa sangat kencang dan membawa udara dingin, ditambah dengan musim kemarau kala itu membuat tangan ku terasa mati rasa. Kami pun mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda. Pasar Bubrah terasa sangat ramai oleh para pendaki lain, maklum lah, kala itu malam minggu. Setelah dirasa cocok, kami mulai mendirikan tenda. Ketika teman yang lain mendirikan tenda, aku langsung membuka carier ku untuk mengambil beberapa potong baju dan syal, karena dingin yang teramat sangat. Setelah mendirikan tenda, kami membuat mie rebus dan membuat minuman hangat, sekitar pukul 22.00 kami tidur. Tenda yang hanya untuk 4 orang kami paksa untuk 6 orang, apalah daya kami tidur mirip ikan sarden, saling berdesakan, bahkan ada satu teman kami yang tidur di teras tenda.
Kami tidur nyenyak sekali sampai-sampai bangun kesiangan, kami bangun pukul 05.00 pagi dari target kami yang bangun pukul 4 untuk summit attack. Tak apalah, aku pun sedikit mengabadikan munculnya sang surya di ufuk timur. Kemudian kami membuat minuman hangat, sekitar 3 bungkus energen kami seduh dan kami minum sekaligus energi untuk summit attack. Kami berjalan mengikuti alur pendaki lain, seperti melewati jalur aliran lahar. Bentuknya seperti selokan kecil. Namun di tengah perjalanan saya terpisah dengan rombongan. Yang seharusnya belok ke kiri saya masih lurus, dan ketika akan belok ternyata medan nya sangat licin karena dinding batu yang tertutup pasir. akhirnya saya tetap meneruskan jalan tersebut. Karena kondisi tenaga yang terkuras saya merasa sangat haus, namun apalah daya karena bekal minum dibawa teman dan saya sudah terpisah rombongan. Kondisi sangat haus membuat kerongkongan saya kering, saya batuk kering dan hampir muntah, namun ternyata ada 3 orang anak muda yang dari belakang saya melewati saya kemudian memberikan minum. "Alhamdulillah" lega ternyata. Ternyata 3 anak muda tadi adalah mapala dari tegal dan mereka masih SMA. Sungguh sangat peduli mereka. saya pun terus melanjutkan perjalanan sampai ke puncak.
Setelah di summit saya langsung menemui teman-teman dan berfoto bersama. tidak lama di puncak kami turun dan bersiap berkemas pulang. Kondisi medan merapi yang berupa batuan dan pasir kasar membuat sepatu yang saya pakai rusak berat. Yah walaupun itu adalah sepatu teman, ini adalah sebuah pengalaman yang tidak ternilai harganya, luar biasa.

Komentar
Posting Komentar