PERCAYA


PERCAYA
Percaya dengan sebenar-benarnya taqwa kepada Allah semata. Bukan hanya dalam moment kesedihan dan musibah saja, namun pada moment bahagia dan kesenangan juga. Karena sejatinya Dia-lah yang memberikan semua. Bukan berarti membenci-Nya ketika mendapatkan moment yang gundah dan sedih. Namun adalah bentuk apakah kita mencintai-Nya atau malah hanya meminta kebahagiaan semata. Tentu Dia ingin menguji mu kan, menyampaikan apakah engkau benar-benar taqwa atau hanya sekedar kosong tanpa makna dan hanya meminta kebahagiaan saja.
Tunjukanlah saat engkau diberikan musibah, kesedihan dan kegalauan dengan berprasangka baik, dengan prasangka paling terbaik kepada-Nya. Lalu tunjukanlah dengan sikapmu bahwa kamu adalah hamba yang selalu optimis. Tunjukanlah perasaanmu pada-Nya melalui amalan ibadahmu, tunjukan zuhud mu. Bahwa engkau benar-benar mencintai-Nya, taqwa kepada-Nya, bukan hanya lisan belaka.
Karena dalam cerita masa lalu seorang hamba menyampaikan “Aku tidak pernah kecewa ketika berdoa kepada Allah”. Sebuah kata percaya yang keluar dari lisan. Serta bukan sembarang lisan, karena kata tersebut menunjukan bahwa hamba tersebut melakukan secara berulang-ulang. Begitu juga Allah yang tidak pernah melakukan suatu hal yang mengecewakan hamba-Nya yang bertaqwa, dan belum sekalipun. Mungkin engkau yang membaca ada yang menyanggah apa yang aku sampaikan. Maka aku hanya menjawab dengan sederhana, “mungkin kamu tak pernah mempercayai Allah 100% saat sadar atau tidak sadarmu”. 
Mungkin kamu juga tidak mencintainya di posisi yang pertama dan utama. Atau mungkin cintamu pada Allah kamu letakan setelah pasanganmu, atau harta bendamu. Maaf jika kasar, bukan bermaksud seperti itu, karena aku juga pernah melakukan itu. Maka mohon ampunlah padanya. Dia-lah Allah yang telah menciptakanmu dengan bentuk sempurna, Dialah Allah yang telah meniupkan rohmu di rahim bundamu. Dia lah Allah yang telah menganugerahkan kedua orang tuamu sekarang, yang engkau cintai, engkau banggakan, engkau sayangi bahkan engkau tak ingin ada yang menyakiti mereka.
“Tidak?”. “Kau tidak mencintai orang tuamu?” coba kamu pikirkan dalam-dalam seandainya tanpa orang tua yang mengasuhmu, atau melahirkanmu. Tidakah kamu memikirkan itu. Baik aku cukupkan pertanyaannya, itu adalah pikiran pribadimu, aku tak bisa lebih jauh mengubah bagaimana persepsimu itu dan kamu yang memilih sendiri perasaanmu pada kedua orang tuamu. Mungkin jika tanpa perantara orangtua, kita tak hidup dalam dunia ini. Seandainya kita tak hidup di dunia ini, entahlah aku tak tahu mungkin hanya Allah yang tahu.
Mohon ampunlah pada Allah atas dosamu, aku pun sama untuk selalu berdoa dan meminta ampunan pada Allah. Allah lah yang telah memberikan semuanya kepada kita, apapun itu kebutuhan, kebahagiaan, bahkan kesedihan dan banyak lagi. Allah yang memberikan kita kesempatan hidup, untuk melihat indahnya kehidupan, melihat semua yang ada di bumi ini.  Ada banyak perasaan ketika melihat kehidupan, dan orang-orang yang menjalani kehidupannya dengan optimis, santai, kehidupan yang mengalir begitu saja, ada yang mengejar materi, ada yang mengejar ketenangan hidup, ada yang bersimpati dengan sesama ada yang antipati banyak hal.
Maka saat-saat sedih, gundah, bahkan bahagia yang kita lakukan adalah selalu mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian selalu percaya kepada Allah, bahwa Allah tidak pernah memberikan kesulitan dan kesedihan secara terus menerus. Begitu juga kebahagiaan dan kelonggaran, itu juga tidak pernah diberikan secara terus menerus. Agar apa, agar kita selalu belajar akan apa makna bersyukur kepada Allah, belajar menghargai sebuah hal yang paling hakiki yaitu sebuah kehidupan. Bukan mengobral dengan harga murah akan dunia. Entah materi, harta benda atau apapun yang menyilaukan mata dan hati kita. Sehingga kita lupa dan melupakan semuanya yang diberikan Allah kepada kita. Kita juga perlu belajar bahwa kesehatan adalah pemberian-Nya yang berharga dan mahal. Seaandainya saja kita tahu usus kita sangat berharga, maka kita tidak pernah memberikan masalah dengan makanaan yang tidak jelas asal-usulnya. Kita juga perlu belajar bahwa waktu adalah hal yang sangat berharga, kita tak pernah dapat membeli sebuah waktu dengan harga paling mahal pun. “Waktu bukan hanya sekedar mengejar materi bukan?” maka koreksilah diri kita masing-masing.
Maka bersyukur akan pemberian dari Allah apapun bentuknya adalah hal yang utama bagi seorang hamba, mungkin akan berat ketika pada saat diberikan sebuah musibah. Maka hal yang paling mudah adalah berprasangka baik kepada Allah dan percaya kepada-Nya. Percaya bahwa itu sebagai pembelajaran bagi kita, percaya bahwa ujian tidak akan selamanya menimpa kita. Ketika kita mampu melewati ujian, cobaan atau musibah tersebut maka bisa jadi kita menjadi semakin lebih baik daripada sebelumnya. Maka kita akan menjadi pribadi yang lebih matang dalam menjalankan aktivitas kehidupan kita. Menjadi lebih perduli terhadap kehidupan kita, sekitar dan sesama. Maka Percaya.

Komentar