Percaya dengan
sebenar-benarnya taqwa kepada Allah semata. Bukan hanya dalam moment kesedihan
dan musibah saja, namun pada moment bahagia dan kesenangan juga. Karena
sejatinya Dia-lah yang memberikan semua. Bukan berarti membenci-Nya ketika
mendapatkan moment yang gundah dan sedih. Namun adalah bentuk apakah kita
mencintai-Nya atau malah hanya meminta kebahagiaan semata. Tentu Dia ingin
menguji mu kan, menyampaikan apakah engkau benar-benar taqwa atau hanya sekedar
kosong tanpa makna dan hanya meminta kebahagiaan saja.
Tunjukanlah saat engkau
diberikan musibah, kesedihan dan kegalauan dengan berprasangka baik, dengan
prasangka paling terbaik kepada-Nya. Lalu tunjukanlah dengan sikapmu bahwa kamu
adalah hamba yang selalu optimis. Tunjukanlah perasaanmu pada-Nya melalui
amalan ibadahmu, tunjukan zuhud mu. Bahwa engkau benar-benar mencintai-Nya,
taqwa kepada-Nya, bukan hanya lisan belaka.
Karena dalam cerita masa
lalu seorang hamba menyampaikan “Aku tidak pernah kecewa ketika berdoa kepada Allah”.
Sebuah kata percaya yang keluar dari lisan. Serta bukan sembarang lisan, karena
kata tersebut menunjukan bahwa hamba tersebut melakukan secara berulang-ulang. Begitu
juga Allah yang tidak pernah melakukan suatu hal yang mengecewakan hamba-Nya
yang bertaqwa, dan belum sekalipun. Mungkin engkau yang membaca ada yang
menyanggah apa yang aku sampaikan. Maka aku hanya menjawab dengan sederhana,
“mungkin kamu tak pernah mempercayai Allah 100% saat sadar atau tidak
sadarmu”.
Mungkin kamu juga tidak
mencintainya di posisi yang pertama dan utama. Atau mungkin cintamu pada Allah
kamu letakan setelah pasanganmu, atau harta bendamu. Maaf jika kasar, bukan
bermaksud seperti itu, karena aku juga pernah melakukan itu. Maka mohon
ampunlah padanya. Dia-lah Allah yang telah menciptakanmu dengan bentuk
sempurna, Dialah Allah yang telah meniupkan rohmu di rahim bundamu. Dia lah Allah
yang telah menganugerahkan kedua orang tuamu sekarang, yang engkau cintai,
engkau banggakan, engkau sayangi bahkan engkau tak ingin ada yang menyakiti
mereka.
“Tidak?”. “Kau tidak
mencintai orang tuamu?” coba kamu pikirkan dalam-dalam seandainya tanpa orang
tua yang mengasuhmu, atau melahirkanmu. Tidakah kamu memikirkan itu. Baik aku
cukupkan pertanyaannya, itu adalah pikiran pribadimu, aku tak bisa lebih jauh
mengubah bagaimana persepsimu itu dan kamu yang memilih sendiri perasaanmu pada
kedua orang tuamu. Mungkin jika tanpa perantara orangtua, kita tak hidup dalam
dunia ini. Seandainya kita tak hidup di dunia ini, entahlah aku tak tahu
mungkin hanya Allah yang tahu.
Mohon ampunlah pada Allah
atas dosamu, aku pun sama untuk selalu berdoa dan meminta ampunan pada Allah. Allah
lah yang telah memberikan semuanya kepada kita, apapun itu kebutuhan,
kebahagiaan, bahkan kesedihan dan banyak lagi. Allah yang memberikan kita
kesempatan hidup, untuk melihat indahnya kehidupan, melihat semua yang ada di
bumi ini. Ada banyak perasaan ketika
melihat kehidupan, dan orang-orang yang menjalani kehidupannya dengan optimis,
santai, kehidupan yang mengalir begitu saja, ada yang mengejar materi, ada yang
mengejar ketenangan hidup, ada yang bersimpati dengan sesama ada yang antipati
banyak hal.
Maka saat-saat sedih,
gundah, bahkan bahagia yang kita lakukan adalah selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Kemudian selalu percaya kepada Allah, bahwa Allah tidak pernah memberikan
kesulitan dan kesedihan secara terus menerus. Begitu juga kebahagiaan dan
kelonggaran, itu juga tidak pernah diberikan secara terus menerus. Agar apa,
agar kita selalu belajar akan apa makna bersyukur kepada Allah, belajar
menghargai sebuah hal yang paling hakiki yaitu sebuah kehidupan. Bukan
mengobral dengan harga murah akan dunia. Entah materi, harta benda atau apapun
yang menyilaukan mata dan hati kita. Sehingga kita lupa dan melupakan semuanya
yang diberikan Allah kepada kita. Kita juga perlu belajar bahwa kesehatan
adalah pemberian-Nya yang berharga dan mahal. Seaandainya saja kita tahu usus
kita sangat berharga, maka kita tidak pernah memberikan masalah dengan makanaan
yang tidak jelas asal-usulnya. Kita juga perlu belajar bahwa waktu adalah hal
yang sangat berharga, kita tak pernah dapat membeli sebuah waktu dengan harga
paling mahal pun. “Waktu bukan hanya sekedar mengejar materi bukan?” maka
koreksilah diri kita masing-masing.
Maka bersyukur akan
pemberian dari Allah apapun bentuknya adalah hal yang utama bagi seorang hamba,
mungkin akan berat ketika pada saat diberikan sebuah musibah. Maka hal yang
paling mudah adalah berprasangka baik kepada Allah dan percaya kepada-Nya.
Percaya bahwa itu sebagai pembelajaran bagi kita, percaya bahwa ujian tidak
akan selamanya menimpa kita. Ketika kita mampu melewati ujian, cobaan atau
musibah tersebut maka bisa jadi kita menjadi semakin lebih baik daripada
sebelumnya. Maka kita akan menjadi pribadi yang lebih matang dalam menjalankan
aktivitas kehidupan kita. Menjadi lebih perduli terhadap kehidupan kita,
sekitar dan sesama. Maka Percaya.

Komentar
Posting Komentar