“Aja nggege mangsa” merupakan
kalimat dalam bahasa Jawa yang berarti kurang lebih ‘Jangan Minta Dipercepat’.
Sebuah hal yang secara manusia sangat lazim dilakukan. Contohnya siapa yang tak
ingin hujan yang sejuk ketika masa kemarau yang begitu panas dan menyengat
kulit. Tentu semua orang menginginkan hujan saat itu, walau hanya sepuluh menit
atau bahkan satu menit. Hujan sebagai penghilang rasa panas ketika menyengat
kulit. Peristiwa yang lain, misalkan saat musim hujan tiba siapa yang keberatan
dan tak meminta sinar matahari yang terik untuk sekedar menghangatkan badan.
Sinar terik untuk sekedar mengeringkan pakaian basah yang sudah berhar-hari tak
kering. Siapa yang tak ingin sinar matahari terik saat itu. Terlepas dari
orang-orang yang meminta seperti di atas, ada orang-orang yang mengharapakan
musim sebagaimana mesti musimnya. Mereka berharap musim hujan dengan hujan
lebatnya dan musim kemarau dengan teriknya. Musim hujan untuk mengairi tanaman
yang mereka tanam dengan sepenuh hati dan dengan penjagaan dari hama ataupun
parasit. Musim kemarau sebagi sebuah siklus menuju kematangan tanamanya sebelum
mereka panen. Mereka begitu sabar dan menerima siklus musim yang diberikan oleh
Allah dengan suka cita. Merekalah para penanam padi, yang selalu menghadirkan cinta
mereka dalam hidangan sarapan atau makan siang kita berupa beras.
“Aja nggege mangsa” ketika
saatnya menjadi seorang pembelajar, sesorang yang selalu menerima materi atau
pelajaran dari guru maka selalu bersemangat dalam mencari ilmu. Jangan meminta
untuk dicepatkan, karena pada dasarnya proses merupakan kesatuan yang utuh
dalam pembelajaran. Hakikatnya semua
manusia adalah pembelajar, siapa yang menjadi pembelajar yang baik maka akan
mendapatkan kehidupan yang baik pula. Saat seorang pembelajar sudah melampaui
dari apa yang seharusnya dicapainya maka seorang pembelajar itu harus bisa
menjadi seorang pengajar yang baik. Sekurang-kurangnya sama seperti guru yang
mengajarinya, agar siklus ilmu selalu berjalan.
Secara keseluruhan hakikat dari
“Aja Nggege mangsa” adalah suatu kalimat sederhana yang merujuk pada kata
‘Sabar’. Sabar dalam mengarungi setiap sendi kehidupan, karena ada pada masanya
musim kemarau yang kering dan panas. Pada musim yang lain berupa penghujan
dengan mendung dan kelembapan yang ada disekitarnya.
Para pendahulu sebelum
menyampaikan kalimat ini mungkin sudah mengetahui bahwa sesuatu hal dalam
melakukan sesuatu untuk mencapai di titik tertentu pasti membutuhkan kesabaran.
Bahkan hanya sekedar menyajikan makanan instan saat ini membutuhkan proses pula
dalam pembuatanya. Prosesnya mungkin hanya sekedar merebus air, namun dibalik
itu perlu wadah airnya pula dan api untuk mendidihkan airnya. Barulah dicampurkan
dengan makanan instan itu dan baru bisa disajikan.
Sabar dalam setiap proses kehidupan,
bahkan dalam hal yang paling dasar dalam pembelajaran adalah kesabaran. Proses
pembelajaran berisi tentang kesabaran masing-masing individu dalam menerima
setiap ilmu yang diberikan oleh gurunda. Tentunya siapa yang bersabar maka akan
mendapatkan ilmu yang lebih daripada orang yang belum bersabar. Hal ini
tentunya memang sudah Allah desain dalam perangkat yang dimiliki manusia, yaitu
otak. Otak dalam menerima informasi, memprosesnya, dan mengingatnya membutuhkan
waktu berulang. Maka sifat sabar seharusnya sudah menjadi sifat yang diketahui
manusia yang mengerti akan dirinya dan Allah.
“Sabar ada batasnya!” begitu kata
beberapa orang, tidak semuanya. Kata-kata tersebut muncul saat terjadi dalam
suatu hal yang tidak sesuai dengan harapan dan ekspektasinya. Sederhananya
adalah ‘masalah’, entah masalah dalam hal pekerjaan, masalah dengan teman
dekat, masalah dengan tetangga sebelah, masalah ketika partner tidak sesuai
dengan target yang disepakati. Apakah perlu sabar jika semua hal itu terjadi?
Hal itu mungkin sebuah kalimat yang sering muncul pertama kali dalam benak kita
sebagai manusia normal pada umumnya. Sehingga ada sebagian yang mengatakan
“iya” dan munculah kata-kata sebagai bentuk ketidaksesuaianya dengan tujuan,
atau ada sebagian orang lain yang kemudian memunculkan apa yang seharusnya
dilakukan dari permasalahan tersebut. Respon masing-masing manusia akan berbeda
sesuai dengan kesadaran akan kesabaran yang dimilikinya.
Secara umum kesabaran memang
bentuk pembiasaan dan sebuah wujud kedalaman ilmu masing-masing manusia.
Bukankah pembelajaran yang sebenarnya adalah terpaan masalah yang datang setiap
hari. Mungkin kita sering tidak sadar bahwa guru kita dahulu selalu memberikan
sebuah permasalahan setiap hari, baik di pelajaran matematika, IPS atau bahkan
lainya. Permasalahan yang selalu membuat kita sebagai siswa saat itu selalu
pusing memikirkan jawabanya. Kemudian ada siswa yang sabar dalam proses mencari
jawabanya sehingga terpecahkanlah masalah itu, namun ada juga siswa yang
mengambil jalur cepat dengan mencontek. Ya itulah, pada dasarnya kesabaran
adalah ilmu yang ada dalam setiap pembelajaran.
Pembelajaran adalah suatu bentuk
terpaan masalah setiap waktu dengan kesabaran sebagai proses untuk memecahkan
masalah tersebut.

Komentar
Posting Komentar